Sudahkah Anda Bersahabat dengan LGBTI

Perayaan IDAHO (International Day Against Homophobia) yang dalam perkembangannya sekarang menjadi IDAHOT (International Day Against Homophobia and Transphobia) masih belum terlalu popular di masyarakat umum apalagi di Indonesia. Banyak orang yang belum mengerti apakah IDAHOT itu. Tidak seperti perayaan international lainnya yang lebih familiar. IDAHOT sendiri secara internasional baru digagas tahun 2003 di Kanada dan baru dilaunching tahun 2004 bulan Agustus. Lalu beberapa organisasi mengusulkan untuk IDAHO ditetapkan menjadi tanggal 17 May,dimana pada tanggal 17 May 1990 tersebut WHO (World Health Organization) sebagai badan kesehatan dunia secara resmi menyatakan bahwa homoseksual bukan penyakit/gangguan kejiwaan.

Pada tahun 2005 perayaan IDAHO mulai meluas ke seluruh dunia dan organisasi LGBTIQ besar seperti ILGA, ILGHRC, The World Congress of LGBT Jews, the Coalition of African lesbiansl, langsung bergabung dan ikut mengkampanyekan gerakan ini. Perayaan dan event IDAHOT diadakan di berbagai negara di dunia termasuk di Indonesia. Di Indonesia, meskipun organisasi LGBTIQ berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini bukannya tidak mempunyai tantangan. Karena FPI dan beberapa organisasi masyarkat berbasis agama merupakan pihak yang paling sering menentang dan menganggap kita sebagai musuh juga semakin kuat dan semkin berkembang. Apalagi organisasi-organisasi tersebut mendapat dukungan dari Kepolisian sehingga membuat mereka semakin seenaknya dalam melakukan aksinya, menentukan seseorang atau sekelompok orang bersalah, penyebar maksiat dan kelaknatan. Belum lagi munculnya aturan pemerintah atau kebijakan yang masih mengkriminalkan homoseksual seperti seperti peraturan daerah kota Palembang dan propinsi Sumatera Selatan serta Sumatera Barat yang menyamakan homoseksual sebagai tindakan pelacuran. Kemudian diperkuat dengan UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi yang menyebutkan homoseksual sebagai persenggamaan menyimpang.

Seiring dengan hal tersebut di atas, masih banyak pemuka agama yang menolak homoseksual dengan dalil agamanya. Begitujuga beberapa psikolog dan psikiater yang masih beranggapan bahwa lesbian dan gay bisa diterapi atau disembuhkan, dan para intelektual yang masih belum bisa menerima keberadaan Lesbian, gay dan transgender/transeksual.  Homophobia dan Transphobia seringkali kita jumpai di mana saja. Di tempat kerja banyak teman waria yang tidak bisa atau ditolak bekerja diperkantoran. Di sekolah anak-anak gay atau waria sering mendapat perlakuan yang tidak semestinya (Bully) dari teman-temannya atau gurunya. Selalu saja ada dan bahkan banyak cerita mengenai Homophobia dan Transphobia yang dialami teman temanLGBTI. Diskriminasi terhadap kelompok LGBTI masih sering terjadi di segala sector termasuk layanan kesehatan dan akses pekerjaan.

Beberapa hari belakangan ini kita bisa lihat dengan jelas bagaimana Homophobia itu masih kuat di Indonesia. Tentu masih segar dalam ingatan kita, bagaimana diskusi buku Irshad Manji dibubarkan. Tidak hanya di Jakarta bahkan di Jogjakarta pun dibubarkan dengan kekerasan, pemukulan dan pengrusakan kantor LKIS. Kita juga dapat melihat bagaimana institusi sebesar UGM sebuah Universitas tempat para terpelajar dan intelektual menolak atau membatalkan diskusi tersebut. Alih-alih melindungi, pihak keamanan justru menghilangkan hak atas informasi, berkumpul, berpendapat dan mendapatkan pendidikan alternatif sebagian warga negaranya, bahkan dengan mengedepankan kekerasan dan pembiaran kekerasan oleh satu kelompok atas kelompok lain. Tidak hanya itu konser Lady Gaga terancam dibatalkan karena salah satu alasannya adalah dia mendukung LGBTI. Pencalonan Dede Oetomo sebagai calon Komisioner HAM pun banyak mendapat tantangan dari para Homophobia. Mereka tidak melihat kapasitas Dede Oetomo tetapi yang diperhatikan hanya orientasi seksualnya.

Ini menunjukkan bahwa kita memang perlu mengadakan perayaan IDAHOT dan mensosialisasikan kepada masyarakat tentang IDAHOT. Kita wajib memberikan pendidikan tentang SOGIB (orientasi seksual, gender, intersek dan tubuh) kepada masyarakat. Kita wajib mencantumkan pendidikan seks dan gender pada kurikulum pendidikan sehingga mereka mengerti dan homophobia/tranphobia bisa kita hapuskan dari muka bumi Indonesia.

Peringatan IDAHOT bukan hanya sekedar perayaan hura-hura tetapi bagaimana kita diingatkan bahwa masih banyak teman teman Lesbian, gay dan transgender/transeksual yang mendapakat perlakuan sangat tidak pantas, tidak manusiawi, mendapatkan diskriminasi, mendapatkan kekerasan karena identitas mereka bahkan ada teman waria yang harus kehilangan nyawa karena dia seorang waria atau lesbian atau gay. Apapun identitas mereka, apapun orientasi seksual mereka, mereka tetaplah manusia yang harus dilindungi hak hidupnya, dipenuhi kebutuhan hak haknya sebagai warga Negara. Menghargai orang lain, bertoleransi bukan hanya sekerdar wacana atau hanya untuk diucapkan tetapi untuk dilakukan. Oleh karena itu mari kita merayakan IDAHOT dengan tindakan nyata.

Sudahkah anda bersahabat dengan LGBTIQ?

ditulis oleh : Poedjiati Tan (Sekretaris GAYa NUSANTARA)

KOMPASIANA

Leave a comment

Your email address will not be published.