Sekilas Update Kegiatan di AIDS Conference Washington DC

Salam teman-teman jaringan,

Sebagaimana pernah dikabarkan oleh kang Tono Permana di grup ini mengenai partisipasi saya dalam international AIDS conference ke-19 di Washington DC, USA tanggal 22-27 Juli lalu, sebelumnya saya mohon maaf karena baru sekarang sempat berbagi tentang hal ini. Saya bersyukur dan bangga mendapat kesempatan yang luar biasa untuk mengikuti konferensi besar yang kebetulan diselenggarakan di negara besar pula. Terima kasih tak terhingga atas dukungan yang diberikan oleh GWL-INA dan ISEAN-Hivos untuk keikutsertaan saya dalam event ini.

Seperti yang juga telah di posting oleh pak Dede Oetomo, IAC 2012 ini dihadiri oleh ribuan orang, beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa partisipan yang hadir mencapai 35.000 orang. Sebagai utusan dari GWL-INA dan tergabung dalam tim ISEAN-Hivos, kegiatan saya selama konferensi tentunya adalah mendukung pengelolaan booth Hivos yang terutama menampilkan visualisasi dan update informasi tentang pelaksanaan program ISEAN-Hivos yang didukung oleh Global Fund Round 10. Booth ini dibuka sejak tanggal 23-27 Juli, secara bergantian di hari yang berbeda tema booth mengusung konsep Indonesian day, Malaysian day, Phillipines day, dan Timor Leste day mewakili negara-negara yang telibat dalam ISEAN-Hivos initiative. Meskipun terletak di Hall C yang cukup jauh dari ruangan sesi-sesi utama dang o berdekatan dengan area Global Village yang penuh dengan ratusan booth lain yang sangat atraktif, booth Hivos berhasil mendapatkan respon cukup baik dari pengunjung exhibition.

Melalui booth tersebut, ISEAN-Hivos juga mencoba menjaring input dari pengunjung yang datang dengan menampilkan alfa version dari program Behavior Change Communication (BCC) online yang akan digunakan dalam beberapa waktu kedepan. Cukup banyak feedback yang didapat untuk pengembangan materi BCC online tersebut sebelum nantinya diimplementasikan. Booth Hivos ini juga menjadi tempat koordinasi dan bertemu bagi perwakilan Hivos dari Belanda dan Bolivia untuk menampilkan display material mereka, termasuk juga materi-materi tentang APCOM.

Kegiatan saya lainnya selain mempresentasikan poster abstrak yang berjudul “Social interaction in the MSM community in eastern Jakarta and its impact on HIV/AIDS risk-prone sexual behaviour” pada tanggal 24 Juli, adalah mengikuti berbagai macam sesi yang diselenggarakan di seluruh rangkaian konferensi ini. Sesi-sesi pada konferensi ini setiap harinya terbagi menjadi 4 kategori yaitu Sessions, Workshops, Satellites sessions, Global Villages Sessions yang dilaksanakan secara pararel di 23 ruangan mulai dari pukul 7.00 sampai 20.30 dengan rata-rata durasi setiap sesi berkisar selama 1 – 3 jam.
Cukup membingungkan memilih sesi-sesi yang ingin diikuti di antara 23 sesi pararel sehingga saya mempriotaskan mengikuti sesi-sesi terkait M&E dan riset terkait MSM dan transgender. Beberapa sesi tentang youth dan perempuan juga sempat saya ikuti.

Yang cukup membekas dari sekian sesi yang saya ikuti adalah pentingnya penyederhanaan format dan mekanisme pelaporan untuk memungkinkan keterlibatan komunitas dalam sistem M&E, penyediaan data untuk evidence based sesuai dengan kebutuhan termasuk memisahkan (disaggregate) data sesuai dengan kategori-kategori yang dibutuhkan (kelompok umur dalam remaja, antara LSL dan waria, dll). Ketersediaan data yang adekuat akan dapat menjadi basis untuk dikembangkannya riset operasional berbasis komunitas. Riset operasional tersebut merupakan yang riset yang mudah dan sederhana dan dapat dilakukan seiring dengan berjalanannya kegiatan di tengah-tengah komunitas tetapi hasilnya akan sangat informatif untuk input perbaikan program.

Dalam konferensi ini semua kelompok, MSM, transgender, PLHIV, Perempuan, IDUs, dan Youth menyuarakan hal yang sama yaitu pelibatan penuh komunitas dalam mengembangkan upaya intervensi di kelompok masing-masing untuk dapat membalikkan arus (turning the tide) dalam transmisi AIDS. Ternyata isu-isu yang ada di Indonesia seperti marginalisasi, hambatan dari kelompok fundamentalis, kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak juga masih menjadi isu di berbagai belahan dunia lain pun di beberapa negara maju sekalipun.

Di sela-sela sesi konferensi saya juga berkesempatan mengikuti kaukus APCOM selama 3 kali (setiap pagi) dan mendukung pelaksanaan “Getting to Know APCOM’ yang diselenggarakan di kantor FHI 360 tanggal 25 Juli.

Demikian kira-kira gambaran singkat kegiatan saya selama mengikuti IAC 2012 semoga cukup informatif dan dapat bermanfaat. Sekali lagi terima kasih untuk GWL-INA dan ISEAN-Hivos.

Salam,

Adi Nugroho
M&E Coordinator GWL-INA Network

Leave a comment

Your email address will not be published.